Nusabet 168 - Agen Bola
Toto Alpha - Agen Bola  Poker Republik - Agen Bola
Texas Poker
Judi Casino, Agen Bola Sbobet Ibcbet
bandar bola terpercaya
bandar judi online terpercaya
bandar bola terpercaya - mantrabet   Agen Judi Online Terpercaya
Bandar Q   Poker uang asli
poker online   agen bola sbobet terpercaya, Vegas IDR
Bandar Bola - Liga Emas   Agen Bola Online - 381bet
Toto Betting - Batman365   Game Togel - Toto Nusantara
Bandar Sakong - SponsorQQ   Bandar Poker - MonasQQ
dominoqq, agen bandarq, capsa poker online, bandarq, domino online
Pasang iklan, hanya lewat Contact Us.
Waspada penipuan iklan. Klik di sini untuk melihat daftar penipu.
  Javtoys   Agen Poker : Royal Jakpot
Wigo Bet   Agen Bola,Casino,Poker Terpercaya   RGO Poker - Agen Bola
Judi Casino dan Togel Online Indonesia   Kakak Dewa - Online Bet   RGO Casino
Senior Bola - Agen Bola
Beriklan
Situs Judi Online, Judi Bola, Poker Online, Casino, dan Togel
Agen Online - Hjtowin
  1. Alamat alternatif sudah baru gan.
    Bookmark alamat ini gan :  http://tinyurl.com/cintasemprot 
    Jangan bookmark alamat IP-nya.
    Ikuti update terbaru dari semprot (maintenance dll) dari twitter : / Facebook
  2. Login / daftar ? klik di sini
    Lupa password ? klik di sini
  3. Tidak bisa melihat gambar di thread?
    Kalau dari PC, matikan Ad Blocker.
    Kalau dari HP, jangan pakai UC Browser. Pakai Chrome / Firefox / Opera Mini.
    Tutup

My True Walk In Interview

Thread di 'Cerita Panas' dimulai oleh Man1ac, 17 Oct 2011.

  1. Man1ac

    Man1ac Semprot Baru
    Thread Starter

    Daftar:
    8 Jun 2011
    Post:
    32
    Like Diterima:
    88
    SeksiPoker
    Mini jeep yang saya kemudikan meluncur mulus
    ke pelataran parkir hotel P, sebuah hotel
    berbintang 5 yang terletak di jalan Asia Afrika.
    Sebagai anak kost yang sehari-hari harus prihatin,
    sebenarnya apa urusannya saya harus datang ke
    hotel semewah ini ?
    Sebelumnya ijinkanlah saya untuk
    memperkenalkan diri terlebih dahulu. Nama saya
    Ryo, 23 m Bdg (come on chatters, you should
    know this code). Saya kuliah di sebuah fakultas
    teknik yang sering disebut sebagai fakultas
    ekonominya teknik, karena banyaknya mata
    kuliah ekonomi yang bertebaran dalam
    kurikulumnya, di sebuah perguruan tinggi yang
    cukup ternama di kota ini. Tapi syukurlah
    beberapa waktu yang lalu saya telah lulus dan
    diwisuda menjadi seorang Insinyur, but for now,
    I'm only an unemployment.
    That's why I come to this hotel. Kemarin
    seseorang yang mengaku bernama Ibu Ratna
    menelepon dan mengundangku hari ini untuk
    mengikuti sebuah psikotest dari sebuah
    perusahaan tembakau multinasional yang cukup
    ternama di Indonesia (dan beberapa waktu yang
    lalu terkena somasi masyarakat akibat acara
    promosi sebuah produknya yang agak "kelewat
    batas"). Setelah memarkirkan mobil di
    underground, saya melangkah menuju lobby
    hotel. Selintas saya melihat pengunjung hotel
    yang sedang menikmati breakfast (atau lebih
    tepatnya brunch kali yah ?) di coffee shop dan
    berkeliaran di sekitar lobby. Yah...dibanding
    mereka yang berpenampilan santai sih, saya
    lumayan rapi. Ah cuek aja lah, yang penting pede.
    "Maaf Mbak, kalo ruang rekruitmen dimana
    yah ?", tanya saya kepada seorang resepsionis
    yang bertugas di front office sambil menyebutkan
    nama perusahaan tersebut..
    "Oh.., naik aja lewat tangga itu dan belok ke
    kanan.", jelasnya sambil menunjukkan tangga
    yang dimaksud.
    Setelah mengucapkan terima kasih, saya pun
    bergegas menuju ruang recruitment. Hmm...
    masih sepi nih, maklum jadwalnya jam 10 pagi
    sedangkan ketika saya melirik jam tangan saya
    baru menunjukkan pukul 09.22 WIB. Setelah
    mengisi daftar hadir dan mengambil formulir
    data diri, saya menghempaskan diri di sebuah
    sofa empuk di pelataran ruangan tersebut.
    Waktu menunjukkan pukul 09.50 WIB ketika
    seorang wanita mempersilakan para peserta
    untuk masuk ke ruang tes. Setelah mengambil
    posisi, saya melihat peserta lainnya. Hmm.. ada
    beberapa wajah yang saya kenal karena memang
    teman sekuliah, but now they are my competitor.
    Di depan ruangan telah berdiri 2 orang wanita
    yang kemudian memperkenalkan diri sebagai
    mbak Rini dan mbak Tia. Saya menyebut mbak
    karena saya kira mereka tidak terlalu jauh tua
    dibanding saya, walaupun mereka
    memperkenalkan diri dengan sebutan "Ibu".
    Keduanya cantik, walaupun dalam perspektif yang
    berbeda. Mbak Rini berwajah tegas cenderung
    judes, sangat pede dan terkesan senang mendikte
    orang lain, sedangkan mbak Tia terkesan lembut,
    berhati-hati dan komunikatif. Kalau saya
    menilainya sebagai wanita yang seharusnya
    dipacari (mbak Rini) dan wanita yang seharusnya
    dinikahi (mbak Tia). Hahaha...mungkin agak aneh
    penilaian saya ini. Setelah acara basa-basi formal,
    tepat jam 10 tes dimulai.
    1 jam 45 menit yang dibutuhkan mbak Tia untuk
    memandu dan mengawasi jalannya psikotest ini,
    sedangkan mbak Rini entah menghilang kemana.
    Tepat jam 11.45 WIB kita "diusir" ke luar ruangan
    menikmati coffee break untuk 30 menit kemudian
    diumumkan orang-orang yang lulus psikotest dan
    menghadapi interview. Dari 200-an pelamar,
    hanya 40 yang dipanggil psikotest dan hanya 20
    yang dipanggil interview, untuk selanjutnya
    terserah berapa orang yang akan diterima.
    Ternyata nama saya tercantum dalam daftar
    peserta yang lulus psikotest, so I have to stay
    longer to join an interview. Interview will be done
    in english, so I have to prepare myself. But it's
    only my first experience, so what the hell...!! Saya
    berusaha cuek dan rileks aja menghadapinya,
    sa'bodo teuing lah kata orang sini.
    Sekitar jam 14.45 WIB nama saya disebutkan
    untuk memasuki ruangan interview.
    Hhmm...ternyata yang nginterview (eh ini bahasa
    mana yah ?) saya adalah mbak Tia. Setelah
    memperkenalkan diri, kita terlibat dalam obrolan
    yang serius namun akrab. Berkali-kali dia
    membujuk saya untuk mau bergabung pada
    perusahaan ini pada divisi produksi di pabrik.
    Saya sih sebenarnya lebih senang bekerja pada
    shop floor di pabrik daripada harus bekerja di
    kantor manajemen di belakang meja dan di depan
    komputer. Tapi permasalahannya adalah bahwa
    pabrik yang bersangkutan terletak di sebuah kota
    di pesisir utara pulau Jawa, sebuah kota yang
    menjadi pintu gerbang Jawa Barat terhadap
    tetangganya di sebelah timur. Away from home
    means extra cost for living, am I right ?Nggak
    terasa kita ngobrol semakin akrab. Mbak Tia
    ternyata benar-benar smart, komunikatif dan
    mampu membawa suasana bersahabat dalam
    sebuah perbincangan. Nggak heran ternyata dia
    adalah alumni fakultas psikologi tahun 1992
    pada sebuah perguruan tinggi di selatan Jakarta
    yang terkenal dengan jaket kuningnya.
    "That's all Ryo, thank you for joining this
    recruitment. We will contact you in two weeks
    from now by mail or phone", kata mbak Tia
    mengakhiri pembicaraan. "The pleasure is mine.",
    jawab saya pendek sambil berbalik menuju pintu.
    "Ryo, why do you look so confident today ? The
    others don't look like you.", tiba-tiba mbak Tia
    berbicara lagi kepada saya.
    "I just try to be myself, no need to pretend being
    someone else.", jawab saya sambil bingung,
    sebenarnya apa yang telah saya lakukan sih
    sampai dia menilai saya seperti itu ?
    "Cool, I like your style", sambung mbak Tia lagi
    "I like your style too.", jawab saya (pura-pura)
    cuek, "Tia, I like to talk with you, maybe some
    other day we can talk more. May I have your
    number ?", sambung saya lagi. Asli udah cuek
    banget, nggak ada malu-malunya lagi. Baru
    beberapa saat ngobrol bareng dia, tapi kenapa
    rasanya saya udah kenal lama yah ?
    Mbak Tia cuman tersenyum dan memberikan
    kartu namanya sambil meminta nomor telepon
    saya juga. Karena saya masih pengangguran dan
    nggak punya kartu nama, akhirnya dia hanya
    dapat mencatatnya di kertas note miliknya saja.
    Dan saya akhirnya langsung pulang.
    Bandung, same day at 18.04 WIB
    Saya lagi termenung di kamar kost di depan
    komputer menyesali kekalahan kesebelasan saya
    dalam game Championship Manager 4. Sialan...,
    menyerang habis-habisan kok malah kalah yah,
    pikir saya sambil menatap statistik permainan.
    Tiba-tiba... .krrriiinngg. ., teleponku berbunyi
    mengagetkanku karena memang dipasang pada
    volume penuh. Di LCD terpampang nomor
    telepon asing (maksudnya belum ada di memori).
    Langsung saya jawab, "Hallo...".
    "Hallo...ini Ryo ?", terdengar sebuah suara wanita
    di seberang telepon.
    "Iya, ini Ryo", jawab saya. Sejenak saya terganggu
    koneksi telepon yang kresek-kresek, payah juga
    nih jaringan 0816 prabayar wilayah
    sini.
    Ternyata itu telepon dari mbak Tia. Dia sih
    ngakunya cuman iseng aja nge-check nomor saya.
    Setelah ngobrol sebentar, saya nanya, "Mbak,
    banyak kerjaan nggak ?".
    "Kenapa nanya, mau ngajak jalan-jalan yah ?",
    jawab mbak Tia disusul suara tertawanya yang
    ramah.
    "Boleh.., siapa takutt..?", balas saya sambil
    senyum iseng (untung dia nggak bisa lihat
    senyum saya).
    "Nggak kok udah selesai semua, free as a bird.",
    katanya lagi sambil mengutip sebuah judul lagu
    The Beatles (atau John Lennon ? ah sa'bodo teuing
    lah).
    Akhirnya kita sepakat untuk jalan-jalan (but no
    business talks allowed, kata mbak Tia). Waktu
    menunjukkan pukul 19.15 WIB ketika saya
    memarkirkan pantat saya di sofa di lobby hotel
    yang sama. Ah...masak dalam sehari ke hotel ini
    sampai 2 kali, pikirku. Baru beberapa saat
    saya duduk, terlihat sosok mbak Tia berjalan ke
    arah resepsionis untuk menitipkan kuncinya dan
    melihat sekeliling lobby untuk mencariku. Saya
    cukup melambaikan tangan untuk
    memberitahukan posisi saya duduk untuk
    kemudian bangkit berdiri dan berlahan
    menghampirinya. Kemeja putih berbunga-bunga
    kecil berwarna ungu terlihat serasi dengan pilihan
    celana panjangnya yang juga berwarna ungu.
    Wah...aliran "matching"-isme nih, pikirku. "Hi
    mbak, look so nice", kata saya sambil sedikit
    memuji penampilannya yang memang "out of
    mind" itu.
    "Thanks, you too", jawabnya lagi sambil
    tersenyum. Tapi kali ini kesan senyumnya jauh
    dari resmi, seperti senyum kepada seorang teman
    lama.
    Kita langsung berangkat. Karena mbak Tia
    meminta untuk tidak "makan berat", akhirnya
    saya membawanya ke LV kafe, sebuah resto
    dengan city view yang bagus banget di bilangan
    dago pakar. Kalo udah malem, kelihatan indahnya
    warna-warni lampu kota Bandung dari situ. Many
    times I've been there, but still never get bored.
    Temaramnya cahaya lampu resto, jilatan lidah api
    dari lilin di meja dan kerlap-kerlipnya lampu kota
    Bandung di bawah sana tidak mampu
    menutupi kecantikan yang terpancar dari seorang
    Tia, wanita yang baru saya kenal dalam beberapa
    jam saja. Kalo dilihat dari face-nya sih
    nggak cantik-cantik banget, tapi gayanya yang
    ramah, wawasannya yang luas dan obrolannya
    yang menguasai banyak hal, membuat
    penampilannya begitu chic dan smart. Daripada
    dengan cewek cakep dan seksi serta mampu
    mengeksploitasi penampil
     
    Indo Sniper
  2. Man1ac

    Man1ac Semprot Baru
    Thread Starter

    Daftar:
    8 Jun 2011
    Post:
    32
    Like Diterima:
    88
    penampilannya semaksimal
    mungkin, tapi kalo diajak ngomong nggak pernah
    nyambung dan otaknya isinya cuman kosmetik
    sama sale baju atau factory outlet doank sih jauh
    banget bagusan Tia kemana-mana. Pokoknya
    smart-lah, saya jadi teringat Ira Koesno, seorang
    presenter TV favorit saya, yang walaupun tidak
    terlalu cantik tapi mampu memikat karena
    gayanya yang smart itu.
    Mbak Tia (dan pada kesempatan ini dia minta
    saya cukup memanggilnya dengan hanya
    menyebut namanya saja, tanpa embel-embel
    mbak di depannya) memesan lasagna, biar nggak
    terlalu kenyang katanya.
    Ternyata city view Bandung masih kalah dengan
    view yang ada di depan saya sekarang. Asik
    banget melihat Tia menikmati sedikit demi sedikit
    makanannya. Ada suatu momen yang bagus
    banget saat tiba-tiba dia mendongak,
    mengibaskan rambut sebahunya dan menatap
    saya sambil berkata, " Lho kok malah nggak
    makan ?".
    Hhhmmm.....asli sumpah bagus banget angle-
    nya. Saya pernah ikut kegiatan fotografi saat di
    bangku sekolah dulu, so mungkin inilah yang
    disebut dengan angle terbaik. Ada beberapa saat
    (mungkin sepersekian detik) dimana seseorang
    dapat terlihat sangat tampan atau sangat cantik
    dan saya baru menikmatinya beberapa detik yang
    lalu. "Heh..kok malah bengong ?", Tia
    membuyarkan lamunan saya seketika.
    "Ah nggak kok, cuman lagi inget-inget aja tadi
    taruh kunci kost dimana ?", jawab saya sambil
    mencoba berbohong. Kalo dia sampai tahu saya
    mengagumi pemandangan tentang dia, wah bisa
    jadi nggak enak suasananya.
    "Ooohhh...." , sahutnya pendek, entah tahu saya
    berbohong atau tidak. Terus terang saya selalu
    rada takut menghadapi alumni-alumni fakultas
    psikologi, takut-takut pikiran saya bisa dibaca
    mereka, hahahaha.... .
    Lalu kita terlibat perbincangan yang hangat
    sambil menikmati makanan. Ada beberapa sisi
    baru yang saya kenal dari seorang Tia malam itu.
    Desember nanti usianya 26, termasuk muda
    untuk seorang angkatan 1992. Anak kedua dari 3
    bersaudara, kakak perempuannya sudah menikah
    dan tinggal di Jakarta, sedangkan adik laki-lakinya
    sedang kuliah di sebuah PTS yang ternama di
    bilangan Grogol, Jakarta dan terkenal saat-saat
    perjuangan reformasi mahasiswa medio 1998
    lalu. Dia pernah hampir saja menikah pada awal
    tahun ini, namun sesuatu terjadi (Tia
    mengistilahkan dengan something happened in
    the way to heaven, mirip sama judul lagunya Led
    Zeppelin 20-an tahun yang lalu), kekasihnya
    ternyata menikahi wanita lain yang terlanjur
    dihamilinya. Tia menyebutkan itulah resikonya
    pacaran jarak jauh, ternyata seseorang mampu
    menggantikan tempatnya di hati kekasihnya yang
    bekerja di kota tersebut. Ah...manusia, cerita
    tentang kehidupan mereka memang sangat
    beragam.
    "That's why Ryo, 'till now I still can't trust men",
    Tia berkata dengan tatapan kosong ke arah kerlap-
    kerlip lampu kota Bandung. Dia bilang pria itu
    seperti kucing, udah disayang-sayang tetap aja
    nyolong, hahahaha.... lucu juga istilahnya. Saya
    cuman bisa membela kaum saya sebisanya. Biar
    bagaimana pun kayaknya nggak semua cowok itu
    kayak kucing deh, beberapa diantaranya malah
    lebih mirip serigala,
    hahahahaha.. ...
    Makin lama kita ngobrol, makin banyak sisi-sisi
    lain yang saya kenal dari seorang Tia. Bahkan
    sampai sekarang dia masih belum mengerti apa
    sebenarnya yang ada di otak kekasihnya dahulu
    saat meninggalkannya, padahal we had a perfect
    life, katanya. Saya kira anak psikologi tahu semua
    jawaban tentang problem pikiran dan perasaan
    manusia, ternyata nggak juga tuh. Dia bilang sih
    nggak semua dokter bisa nyembuhin sakitnya
    sendiri dan nggak semua pilot bisa terbang.
    Untuk yang terakhir ini dia bisa bikin saya ngakak
    banget.
    "So Ryo, why are you still alone 'till now ?", tiba-
    tiba Tia mengubah topik pembicaraan. Lho kok...
    malah ngomongin saya sekarang ?
    "Ah nggak ada yang mau sama saya, hehehe...",
    jawab saya sekenanya sambil becanda.
    "Boong banget, mau tinggi-in mutu yah ?", todong
    Tia.
    "Hahaha ketahuan deh saya", jawab saya lagi
    sambil cengar-cengir.
    "Boleh Tia ngomong tentang penilaian Tia ke
    kamu ?", katanya tiba-tiba.
    "Sok, silakan, mangga....".
    Dan mulailah Tia mengutarakan penilaiannya
    tentang saya. Yang bikin saya kaget ternyata dia
    bisa tahu pikiran-pikiran saya yang cuman ada di
    hati, bahkan tidak ada di otak sekalipun. Dia
    bilang kalo dibalik penampilan saya yang selalu
    tertawa dan becanda melulu, pernah ada sesuatu
    yang sangat melukai saya di masa lalu, dan itu
    sangat mungkin berkaitan dengan wanita,
    mengingat hingga sekarang saya masih sendiri.
    Ah....saya jadi teringat masa lalu saya yang
    berhasil ditebak dengan jitu oleh Tia (katanya
    semudah membaca buku yang terbuka,
    sialan.....! !!). Dimana sekarang beradanya si "love
    of my life" itu, beberapa wanita memang sempat
    menggantikannya, tapi tidak ada yang benar-benar
    dapat "menggantikannya" , hehehe....kok jadi
    sentimentil gini, ini kan CCS. Hahahaha....
    Untuk beberapa saat saya terdiam, nggak tahu
    sebenarnya apa yang saya pikirkan. Apakah
    pikiran saya lagi ada di masa lalu atau tengah
    mengagumi sesosok wanita yang duduk tepat
    dihadapanku. Akhirnya saya hanya melemparkan
    pandangan menatap gemerlapnya kota Bandung
    di bawah sana.
    .....and baby I..., I've tried to forget you
    but the light on your eyes still....
    shine...., you shine like an angel
    spirit that won't let me go....
    Lagu Angel yang dinyanyikan Jon Secada makin
    menghanyutkan saya dalam lamunan. Sampai
    akhirnya..., "Bagus yah Ryo,
    pemandangannya. ..", tegur Tia membuyarkan
    pikiran kosongku.
    "Yup, saya selalu suka city wiew seperti ini",
    jawab saya sekenanya, biar nggak dikira
    ngelamun.
    Malam semakin larut ketika kita memutuskan
    untuk kembali ke hotel. Kita makin dekat satu
    sama lain, saling curhat selama perjalanan di
    mobil. Becanda, ketawa-an bareng. Why do I feel
    that everything seems so right when we're
    together? Ah mungkin saya aja yang terlalu
    terbawa suasana.
    Waktu menunjukkan sekitar pukul 11 malam
    ketika kita kembali menginjakkan kaki di lobby
    hotel. "Ryo, mau nemenin ngobrol sebentar
    nggak ?", tanya Tia tiba-tiba.
    "Boleh aja, emang belum ngantuk?", tanyaku
    balik.
    "Nggak, lagipula kalau di tempat yang asing Tia
    jadi susah tidur.", katanya memberi reasoning.
    Akhirnya saya ikut melangkahkan kaki ke kamar
    Tia yang terletak di lantai 4. Sebuah kamar
    standar dengan 2 single bed, TV, kulkas dan
    peralatan standar layaknya sebuah kamar hotel
    berbintang. Good enough, daripada kamar
    kostku, hehehehe....
    "Lha kamu sendiri di sini ?", tanya saya begitu
    melihat tidak seorang pun di kamarnya.
    "Sebenernya kamar ini untuk berdua, dengan
    Rini, itu lho yang tadi pagi ikut tes juga", jelasnya,
    "Tapi dia langsung pulang Jakarta pake
    kereta terakhir tadi sore, katanya besok mau ada
    acara apa gitu di keluarganya" .
    Kita memasak air dengan menggunakan ketel
    elektrik yang disediakan hotel untuk kemudian
    masing-masing menikmati secangkir coffemix
    panas. Kursi sengaja kita balikkan menghadap ke
    jendela, untuk memandang Jalan Tamblong yang
    telah temaram dan senyap. Sesekali terlihat mobil
    melintas dengan kecepatan di atas rata-rata,
    mungkin karena sudah malam. Begitupun
    suasana di kamar ini, hanya suara MTV Asia dari
    TV yang dihidupkan yang menemani
    perbincangan kita, menggantikan cahaya lampu
    yang memang kami padamkan. Entah mengapa,
    saya merasa begitu dekat dengan Tia, padahal
    baru beberapa jam kita berkenalan. Ah sekali lagi,
    mungkin saya terlalu terbawa suasana....
    Namun kali ini ternyata Tia yang duduk di sebelah
    saya bukanlah seperti Tia yang saya kenal dalam
    jam-jam terdahulu. Dalam curhatnya,
    ia terlihat sangat rapuh. Entah memang nasib
    saya untuk selalu menjadi tempat curhat orang
    lain. Dari dulu semasa di bangku sekolah hingga
    kini setelah menamatkan pendidikan tinggi, saya
    selalu dijadikan tempat curhat orang-orang dalam
    lingkaran terdekat saya. Dan kini saya harus
    menghadapi Tia yang sesekali sesunggukkan,
    meremas-remas sapu tangannya dan menghapus
    air matanya yang mulai jatuh satu persatu.
    Love..., look what you have done to her,
    bastard...!!
    Saya bangkit dari duduk dan berjalan perlahan
    menghampirinya. Saya hanya bisa termangu
    berdiri di sampingnya dan melihat ke luar untuk
    menunggunya menyelesaikan kisah-kisah yang
    menyesakkannya selama berbulan-bulan. Saya
    mencoba menenangkannya sebisa saya dengan
    menganalisis kehidupannya dari berbagai
    perspektif. Saya hanya bisa mengatakan bahwa ia
    masih beruntung karena ditunjukkan
    ketidaksetiaan kekasihnya pada saat mereka
    belum menikah, karena akan lebih sangat
    menyakitkan jika semua itu dihadapi justru ketika
    mereka telah menikah.
    Setelah beberapa waktu kita membahasnya, Tia
    terlihat sudah agak tenang. "Thanks Ryo, kamu
    mau jadi tempat sampah Tia", katanya sambil
    sedikit tersenyum.
    "That what friends are for", jawab saya singkat
    sambil menepuk-nepuk kepalanya seperti kepada
    seorang anak kecil, padahal dia 3 tahun lebih tua
    daripada saya, hehehe..pamali tau...!!
    i
     
  3. Man1ac

    Man1ac Semprot Baru
    Thread Starter

    Daftar:
    8 Jun 2011
    Post:
    32
    Like Diterima:
    88
    Saya duduk lesehan di karpet bersandarkan pada
    tepi ranjang sambil meluruskan kaki.
    Hhmmm..enak juga duduk posisi kayak gini.
    Tidak berapa lama kemudian Tia menyusul turun
    dari kursi dan bergabung duduk dengan posisi
    lesehan di sampingku. Kayaknya enak banget lihat
    gaya kamu, katanya sebelum dia menyusulku
    duduk di karpet. "Ryo, kamu itu aneh yah ?", tiba-
    tiba suara Tia menyentakku.
    "Aneh selanjutnya bagaimana maksud loe?", tanya
    saya asal sambil menirukan sebuah dialog
    sinetron Si Doel beberapa waktu yang lalu.
    Hihihihi.... terdengar Tia cekikikan
    mendengarnya.
    "Ya aneh aja, Tia baru kenal kamu hari ini, tapi
    rasanya Tia udah kenal sama kamu lama banget",
    katanya lagi, "Sampai Tia mau curhat
    sama kamu, padahal Tia paling jarang curhat,
    apalagi sama orang yang baru kenal".
    "Sama, Aku juga gitu kok Ya, jangan-jangan kita
    pernah ketemu di kehidupan sebelumnya yah ?",
    jawab saya sambil nyengir.
    "Ada-ada aja kamu....", katanya sambil tiba-tiba
    merebahkan kepalanya di bahu kananku. Jujur aja
    saya cukup terkejut menerima perlakuannya, but
    santai aja, lagipula apalah yang mungkin terjadi
    dari sebuah bahu untuk menyandarkan kepala
    sejenak ?
    Cukup lama kita masing-masing terdiam dalam
    posisi ini sambil memandang sebagian horizon
    langit yang dipenuhi kerlap-kerlip bintang dari
    jendela kamarnya. Sayup-sayup terdengar dari TV
    rintihan Sinnead O'Connor yang tengah
    menyanyikan lagu legendarisnya :
    ...I can eat my dinner in the fancy restaurant but
    nothing, I said nothing can take away this blue
    cos nothing compares, nothing compares to
    you.....
    Perlahan saya usap rambutnya dan
    memberanikan diri untuk mengecup keningnya.
    Tia mendongakkan kepalanya untuk
    memandangku. Beberapa saat kita saling
    berpandangan, ah oase kedamaian dari pancaran
    matanya inikah yang selama ini saya cari ?
    Mungkinkah saya menemukannya hanya dalam
    beberapa jam saja setelah sekian lama saya
    mencarinya entah kemana ? How can I be so sure
    about that ? dan sekian banyak pertanyaan
    lainnya berkecamuk dalam pikiranku melewati
    detik demi detik kami berpandangan. Yang saya
    tahu beberapa saat kemudian wajah kita semakin
    mendekat dan sekilas saya melihat Tia menutup
    matanya dan pada akhirnya saya kecup lembut
    bibirnya.
    Kami berciuman seakan-akan kami sepasang
    kekasih yang telah lama tidak berjumpa.
    Menumpahkan segala kerinduan dalam
    kehangatan sebuah ciuman. Perlahan saya raih
    pinggang Tia dan mendudukkannya dalam
    pangkuan. Kini kami semakin dekat karena Tia
    saya rengkuh dalam pangkuan saya. Saya usap
    lembut rambutnya, sedangkan dia memegang
    lembut pipiku. Ciuman bibirnya semakin dalam,
    seakan tidak pernah dia lepaskan.
    Cukup lama kami berciuman, sesekali terdengar
    tarikan nafas Tia yang terdengar begitu lembut.
    Akhirnya saya memberanikan diri untuk mulai
    menurunkan bibir ke arah lehernya.
    "Ugh...", hanya terdengar lenguhan lembut
    seorang Tia ketika ia mulai merasakan hangatnya
    bibir saya menjelajahi lehernya.
    Tidak ada perlawanan dari aksi yang saya lakukan.
    Tia justru makin mendongakkan kepalanya,
    semakin memamerkan lehernya yang putih dan
    jenjang. Kedua tanggannya meremas seprai
    tempat tidur sebagai tumpuan. Saya pun semakin
    terhanyut terbawa suasana. Saya perlakukan Tia
    selembut mungkin, menjelajahi milimeter demi
    milimeter lehernya, mengusap rambutnya dan
    makin menekankan punggungnya ke arah
    tubuhku.
    "Ryo...oohh. ..", lenguh Tia saat dia menyadari
    terlepasnya satu per satu kancing kemejanya.
    Ya...saya memang melepaskannya untuk
    melanjutkan cumbuan saya kepadanya. Jilatan-
    jilatan lembut mulai menjalari dada Tia, seiring
    meningkatnya hasrat manusiawi dalam diri
    kami.
    Dengan sekali gerakan, saya dapat
    menggendongnya. Kami lanjutkan percumbuan
    dalam posisi berdiri dengan Tia dalam
    gendongan. Tangannya mulai meremasi
    rambutku. Perlahan-lahan kemejanya terjatuh
    terhempas ke karpet, menyisakan bagian atas
    tubuh Tia yang tinggal berbalutkan sehelai bra
    putih. Beberapa saat kami bercumbu dalam
    posisi ini, sampai akhirnya saya merebahkannya
    di ranjang. Terdengar suara Donita, presenter
    MTV Asia, terakhir kali sebelum saya meraih
    tombol off TV yang terletak di buffet samping
    ranjang. Kali ini suasana benar-benar senyap,
    hanya tarikan nafas kami berdua yang masih
    sibuk bercumbu. Tia mencoba untuk melepaskan
    satu per satu kancing kemejaku hingga akhirnya
    ia berhasil melepaskannya, hampir bersamaan
    saat saya berhasil melepaskan bra-nya.
    Kami meneruskan pergumulan, namun sebuah
    perasaan aneh menyusup ke dalam hatiku. She's
    different, pikirku. Jujur saja, saya sudah beberapa
    kali mengalami sexual intercouse, pun dengan
    orang-orang yang baru saja saya kenal. Namun
    kali ini terasa berbeda. Ada perasaan lain yang
    mengiringi nafsu yang bergejolak, sebegitu
    dahsyatnya sehingga nafsu itu sendiri menjadi
    tidak berarti lagi keberadaannya. Sayang...., yah
    mungkin inilah yang disebut dengan perasaan
    sayang itu, sesuatu yang sudah lama tidak saya
    rasakan keberadaannya. Ini membuatku ingin
    memperlakukannya seindah dan selembut
    mungkin. Tia bukan hanya seseorang yang
    mengisi sebuah babak pelampiasan nafsu
    manusiawi dalam hidupku. Dia berbeda, she
    deserves the best...!!
     
  4. Man1ac

    Man1ac Semprot Baru
    Thread Starter

    Daftar:
    8 Jun 2011
    Post:
    32
    Like Diterima:
    88
    Di pelototin lebih dari 100 pasang mata..
    tetapi jejak yg diharapkan tak kunjung tiba
    :'(
     
    stronger23 dan hakimkim menyukai ini.
  5. kuli kapal

    kuli kapal Semprot Awal

    Daftar:
    17 Oct 2011
    Post:
    6
    Like Diterima:
    0
    wkwkwkwk...gokil ente gan, tapi kerennnn.... jempol buat agan:beer:
     
  6. magicrown

    magicrown Semprot Lover

    Daftar:
    8 May 2011
    Post:
    272
    Like Diterima:
    26
    keren. Cerita na bikin hanyut gan. Romantis. Lebih mirip novel roman drpd cerita panas. I do really like this.
     
  7. asnkeuyeup

    asnkeuyeup Pendekar Semprot

    Daftar:
    28 Aug 2011
    Post:
    1.595
    Like Diterima:
    0
    Lanjut gan...................keren
     
  8. Man1ac

    Man1ac Semprot Baru
    Thread Starter

    Daftar:
    8 Jun 2011
    Post:
    32
    Like Diterima:
    88
    :beer: Thanks gan
     
    2tang likes this.
  9. budgim

    budgim Suka Semprot

    Daftar:
    22 Sep 2011
    Post:
    16
    Like Diterima:
    1
    Lagiii gan!!!!! Mantaaaaap
     
  10. AchSai

    AchSai Semprot Awal

    Daftar:
    30 Nov 2010
    Post:
    8
    Like Diterima:
    0
    keren gan ceritana..
     
    GudangPK.com
  11. bongsang

    bongsang Semprot Awal

    Daftar:
    29 Apr 2011
    Post:
    7
    Like Diterima:
    0
    muantabs..lanjut gan :Peace:
     
  12. dereds

    dereds Semprot Kecil

    Daftar:
    24 Feb 2011
    Post:
    84
    Like Diterima:
    2
    udah? gitu doang??
     
  13. Man1ac

    Man1ac Semprot Baru
    Thread Starter

    Daftar:
    8 Jun 2011
    Post:
    32
    Like Diterima:
    88
    :p Gitu dulu gan.. ntar kalo terlalu vulgar jadi rusak ceritanya gan. kan dah banyak trit lain yg aliran hardcore
     
    Glimpse likes this.
  14. Man1ac

    Man1ac Semprot Baru
    Thread Starter

    Daftar:
    8 Jun 2011
    Post:
    32
    Like Diterima:
    88
    Terdengar lagi lenguhan Tia saat saya mulai
    mengulum buah dadanya. Kali ini terdengar lebih
    keras dari sebelumnya. Mungkin hasrat itu
    telah memenuhi kepalanya. Jilatan-jilatan
    diselingi gigitan-gigitan kecil mendarat di sekitar
    putingnya, berkali-kali membuatnya berjingkat
    terkejut. Saya meneruskan cumbuan saya ke arah
    perutnya, hingga pada akhirnya berhasil
    membebaskan celana panjangnya ke karpet.
    Sekarang terpampang pemandangan yang tidak
    mungkin saya lupakan, seorang Tia yang baru
    saya kenal hari ini, rebah dengan hanya
    berbalutkan celana dalam. Untuk pertama kalinya
    saya memandang seorang wanita dalam kondisi
    seperti ini tidak dengan nafsu yang menguasai.
    Begitu terasa bagaimana saya memang
    menyayangi dan menginginkannya. Matanya yang
    memandang lembut ke arahku, menghadirkan
    begitu banyak kedamaian, sesuatu yang terus
    saya cari selama ini dari diri seorang wanita.
    Kini saya mengulum pusarnya, seiring lenguhan-
    lenguhan kecil yang terdengar dari bibirnya.
    Perlahan saya mulai menurunkan kain terakhir
    yang menempel pada tubuh Tia. Terdengar sedikit
    nada terkejut Tia saat saya mulai menurunkan
    centi demi centi celana dalamnya menyusuri
    kedua kakinya hingga terlepas entah kemana.
    Seiring itupun, saya mulai menurunkan jilatan ke
    arah selangkangannya. "Ryo...mau ngapain...,
    uugghh...", pertanyaan yang coba diajukan Tia
    tidak dapat diselesaikannya begitu dirasakannya
    sebuah jilatan mendarat di organ kewanitaannya.
    Permainan lidahku pada liang kewanitaannya
    memang saya usahakan selembut mungkin,
    hingga terkadang hanya sedikit saja ujung lidahku
    menyentuhnya. Namun hal ini malah justru
    memicu reaksi Tia semakin terbakar.
    "Ohhh....Ryooo. ..", lenguhnya panjang diiringi
    nafasnya yang semakin tidak beraturan.
    Hisapan dan jilatan silih berganti saya lakukan
    dengan penuh kelembutan padanya, hingga pada
    akhirnya terdengar Tia seperti mendekati
    puncaknya. "Aaahhh..... .", jeritnya panjang
    sambil menghentakkan tubuhnya ke atas saat
    puncak itu datang melandanya, menggulungnya
    dalam suatu sensasi keindahan yang sangat
    melenakan dan menghempaskannya ke dalam
    jurang kenikmatan yang begitu dalam.
    Kini saya memandang wajahnya. Matanya yang
    terpejam sambil menggigiti bibirnya sendiri dan
    tangannya yang mencengkram seprai di tepian
    ranjang dengan kencang serta nafasnya yang tidak
    beraturan cukup untuk mengekspresikan betapa
    tingginya Tia terbuai dalam gelombang orgasme
    yang baru saja dilaluinya. Saya biarkan Tia
    meregang dirinya dalam detik demi detik puncak
    kenikmatan yang baru saja didapatnya untuk
    menyibukkan diri mencari sebuah benda yang
    "lubricated with nonoxynol 9, for greater
    protection" (If you were a great CCS fan, you
    should know this thing) yang selalu disisipkan di
    dompetku (my friend said that only bastards
    always bring this thing around. Yeah...maybe I'm
    the one of them).
    Tia baru membuka matanya ketika dirasakannya
    sebuah benda menempel lembut pada bibir
    organ kewanitaannya. Dibukanya matanya
    memandang lembut ke arah wajahku yang tepat
    berada di depan wajahnya. "Tia, may I....?",
    bisikku sambil mengecup keningnya.
    Tia hanya mengedipkan kedua matanya sekali
    sambil tetap memandangku. That's enough for me
    to know the answer of this question.
    Perlahan-lahan saya tekan kejantananku
    menerobos liang kewanitaannya. So gentle and
    smooth. Terdengar nafas Tia tertahan di
    tenggorokannya, menikmati sensasi mili demi
    mili penetrasi yang dilakukanku terhadapnya,
    hingga akhirnya keseluruhannya terbenam utuh.
    Kami terdiam dan saling berpandangan sejenak,
    menikmati bersatunya raga (dan hati) kami
    berdua. Saya kecup bibirnya lembut sebelum
    mulai melenakannya dalam sebuah persetubuhan
    yang sangat indah. Saya masih ingat persis,
    bagaimana kedua tangan kami saling
    bergenggaman erat di sisi tepi ranjang saat kami
    terus bergumul menyatukan hasrat dan raga
    kami. Betapa lembut buah dadanya menekan
    dadaku, dan betapa hangat melingkupi
    kejantananku yang terus memompanya,
    membawa kami semakin tinggi terbuai
    kenikmatan duniawi.
    Entah berapa lama keadaan ini berlangsung,
    ketika pada saatnya terdengar Tia mulai
    mendekati orgasme keduanya. Tangannya
    merangkul pundakku, mendekap tubuhku erat
    seakan ingin mengajakku ikut dalam gelombang
    orgasmenya. Nafasnya makin memburu,
    terdengar jelas di telinga kananku. Saya pun
    meningkatkan kecepatan penetrasi untuk
    membantunya mendapatkan puncak kedua
    kalinya.
    "Eeegghhh... .Ryooo... ...aahhh. .", jerit Tia
    tertahan mencoba menyebut namaku saat
    gelombang orgasme keduanya benar-benar
    datang menggulungnya, menelannya kembali ke
    dalam jurang kenikmatan yang sangat dalam.
    Saya menghentikan pergumulan kami sejenak,
    memberinya kesempatan untuk kembali mengatur
    nafasnya seusai melewati puncaknya yang kedua.
    Saya hanya memberikan senyuman dan kecupan
    lembut di keningnya saat pada akhirnya Tia mulai
    membuka matanya.
    "You're so lovely tonight", bisikku padanya.
    "Ryoo...eh.. !!", teriaknya sedikit terkejut saat tiba-
    tiba saya menarik kedua tangannya untuk
    kemudian mendudukkannya dalam pangkuanku.
    Punggungku bersandar di kepala ranjang, dan
    wajah kami saling memandang. Kami kembali
    berciuman. Perlahan kuangkat tubuhnya, untuk
    kembali menekankan kejantananku pada liang
    kewanitaannya. Walaupun kami tengah
    berciuman, masih sempat kudengar erangan
    lirihnya saat Tia merasakan bagaimana
    kejantananku perlahan menikam tubuhnya.
    Kali ini kubiarkan Tia memegang kendali.
    Kubiarkan bagaimana dengan bebasnya Tia
    memompa diriku. Pundakku dijadikan tumpuan
    olehnya untuk terus menaik-turunkan tubuhnya
    di atasku. Saya hanya membantunya dengan
    meremas buah pinggulnya dan sedikit menaikkan
    posisi selangkanganku, hingga batangku terasa
    makin dalam menghujamnya.
    Ahh....sungguh suatu pemandangan yang tidak
    akan terlupakan bagaimana melihat dirinya terus
    menyatukan raga kami ke dalam suatu
    persetubuhan yang sangat intim. Matanya yang
    terpejam, rambut sebahunya yang sudah mulai
    dibasahi keringat terurai bebas, bibirnya yang
    digigitnya sendiri dan tubuhnya yang berguncang-
    guncang. ....Ughh. .., It's really a loveable thing to
    see.
     
  15. Man1ac

    Man1ac Semprot Baru
    Thread Starter

    Daftar:
    8 Jun 2011
    Post:
    32
    Like Diterima:
    88
    Pemandangan yang sangat melenakan ditambah
    dengan kehangatan yang makin erat menghimpit
    kejantananku, menit demi menit mulai
    membuaiku ke dalam sensasi kenikmatan sebuah
    persetubuhan. Terasa sesuatu mendesak,
    menghimpitku untuk keluar dari dalam tubuhku.
    Oh My God, I think I'm gonna cum.., pikirku.
    "Ryooo....I' m almost there...", bisik Tia lirih
    sambil mempercepat gerakan tubuhnya
    memompaku.
    "Yes...babe, me too...", jawabku sambil mengecup
    erat bibirnya.
    Selanjutnya terasa bagaimana gelombang menuju
    puncaknya seakan berpacu dengan gelombang
    menuju puncakku. Goncangan tubuhnya makin
    terasa mendesak cairan kejantananku untuk
    keluar, sementara tikaman batangku
    semakin menghadirkan sensasi kenikmatan suatu
    orgasme yang hanya
    tinggal sejengkal dari raihannya.
    "Aaahhhh...Ryooo. ...", jeritnya lirih memanggil
    namaku saat ternyata
    gelombang orgasme lebih dahulu menyapanya.
    Saya masih sempat
    meneruskan tikaman kejantananku beberapa kali
    lagi hingga pada
    akhirnya...
    "Tiaaaa...., I'm cummiiinngg. ...!!", teriakku sambil
    mendekap erat
    tubuhnya. Terasa bagaimana derasnya cairanku
    menyembur keluar.
    Fortunately I use condom, masih sempat diriku
    berpikir di sela-sela
    gulungan ombak ejakulasi yang
    menenggelamkanku dalam suatu sensasi
    kenikmatan yang sangat dahsyat.
    Dalam beberapa saat ke depan kami hanya
    mampu berpelukkan erat, untuk kemudian
    bersisian rebah di ranjang. "Thanks honey, you're
    so great...", bisikku sambil mengecup lembut
    bibirnya.
    "Ahh...Ryo.. .", lirih suaranya terdengar, seakan
    ingin mengatakan hal yang sama kepadaku.
    Bandung, 12 Oktober 2000, 01.42 WIB
    Terlihat bagaimana lengangnya perempatan jalan
    Tamblong yang memotong Jalan Asia Afrika di
    bawah sana. Hanya traffic light yang
    mengerjapkan cahaya kuningnya yang
    menandakan adanya kehidupan di sana. Sesekali
    melintas mobil angkutan kota yang beroperasi
    selama 24 jam menuju terminal Kebon Kelapa.
    Kami hanya duduk menatapnya tanpa banyak
    berkata-kata. Kugenggam erat Tia dalam
    pangkuanku, menatap kesunyian tanpa sehelai
    benangpun yang melekat di tubuh kami.
    Terkadang kudengus lembut telinga Tia, yang
    selalu saja diiringi desahan manjanya. Ah..betapa
    romantisnya, memandang cahaya lampu lewat
    tengah malam tanpa selembar busanapun yang
    melekat. Tak terasa sudah lebih dari setengah jam
    kita berdua tertegun memandang jalanan sejak
    gelombang orgasme tersebut menelan kami
    berdua dan menenggelamkan hingga ke dasarnya.
    "Ryo, Tia pengen mandi rasanya", tiba-tiba suara
    Tia mengejutkanku.
    "Ya udah sana mandi", jawabku, "Eh pintunya
    jangan dikunci yah, siapa tau ntar saya mau
    nyusul", godaku lagi.
    "Huuh...maunya" , sahut Tia manja sambil
    menjentikkan telunjuknya di hidungku dan
    kemudian berlalu menghilang di balik pintu
    kamar mandi.
    Selanjutnya saya hanya terdiam, melanjutkan
    lamunanku sendiri. Mengingat betapa beberapa
    menit yang lalu saya telah melalui sebuah
    sexual intercouse yang sangat indah. Kali ini
    sungguh berbeda rasanya, lembut dan
    melenakan. Sungguh jauh lebih indah
    dibandingkan dengan pengalaman- pengalaman
    terdahulu, dengan beberapa wanita yang sempat
    hadir dalam malam-malamku. Entah mengapa
    tiba-tiba timbul keinginanku untuk selalu
    berdekatan dengan Tia. Hanya beberapa menit ia
    tinggalkan (dan itupun hanya untuk mandi), rasa
    kehilangan itu sudah hadir dalam benakku.
    Tanpa kusadar telah kulangkahkan kakiku ke arah
    kamar mandi untuk menyusul Tia.
    Krek...terdengar pelan suara handle pintu kamar
    mandi yang kuputar. Hmm...ternyata memang Tia
    tidak menguncinya, wah bandel juga nih anak,
    pikirku. Perlahan kubuka pintu untuk kemudian
    mendapatkan suatu pemandangan yang sangat
    memukau. Terlihat samar-samar dari belakang
    bagaimana Tia tengah menikmati pancuran air
    dari shower yang membilas lembut tubuhnya.
    Kaca penutup shower menghalangi pandanganku
    karena telah tertutup uap dari air hangat yang Tia
    gunakan. Entah mengapa pemandangan yang
    tersamar ini membangkitkan kembali gairahku.
    Terasa bagaimana kejantananku mulai
    menunjukkan reaksinya.
    Perlahan kubuka pintu kaca shower untuk
    kemudian mendekap tubuh Tia dari belakang.
    "Hei....!!", seru Tia terkejut sesaat menyadari ada
    orang lain yang berada dalam kotak showernya.
    "It's me honey...", kataku menenangkan sambil
    mendaratkan ciuman bertubi-tubi ke arah leher
    belakangnya.
    "Ughh...Ryo. ..", lenguh Tia pendek. Terus
    kudaratkan ciuman bertubi-tubi ke tubuhnya.
    Kadang di leher belakangnya, kadang di
    punggungnya, terkadang pula kulumat bibirnya.
    Kami berciuman di tengah derasnya pancuran
    shower yang membasahi tubuh kami. Ingin sekali
    rasanya kutikamkan kembali kejantananku dari
    belakang ke dalam liang kewanitaannya,
    menikmati sensasi bercinta di sebuah shower
    yang deras menghujani tubuh kami dengan
    butiran-butiran air.
    Setelah kurasa percumbuan kami cukup untuk
    kembali membuatnya bergairah, perlahan
    kutuntun batangku ke dalam vaginanya. Sejenak
    terasa lembut dan hangat tatkala kejantananku
    menempel pada bibir liang kewanitaannya,
    sebelum kuhentakkannya menerobos hingga ke
    pangkal batangku.
    "Arrggghh... ...", jerit Tia tertahan ketika ia mulai
    merasakan dirinya sesak dipenuhi oleh desakan
    kejantananku.
    Saya mulai memompanya perlahan, keluar dan
    masuk. Tia membuka kedua kakinya lebar sambil
    kedua tangannya bertumpu pada kedua keran
    panas-dingin pada shower. Kami kembali
    bercinta, bergumul dalam desakan arus birahi
    yang memenuhi kepala dan tubuh kita. Kami
    bersetubuh di bawah siraman kehangatan shower
    yang terus menghujani tubuh kami tiada henti.
    Terdengar sayup-sayup deru nafas Tia diantara
    derasnya suara air yang tumpah keluar dari
    shower. Kulingkarkan tangan kananku di leher Tia
    ketika kudaratkan tangan kiriku untuk
    mempermainkan puting kanannya, sambil
    tentunya terus memompanya dari belakang.
    Terus kutikamkan batangku ke dalam liang
    vaginanya tiada henti. Menit demi menit berlalu,
    mengiringi persetubuhan kami yang sangat indah.
    Terasa bagaimana semakin ketatnya lubang
    kewanitaan Tia kian menghimpit kejantananku.
    Tiba-tiba kedua tangan Tia menjangkau tangkai
    shower yang terpaku pada dinding bagian atas
    kepalanya, mendongakkan kepalanya seraya
    melenguhkan erangan yang begitu menggairahkan
    perasaan, "Ryooo.... aahhhhh..... ".
    Ternyata Tia kembali meraih orgasmenya yang
    menariknya kembali ke dalam kenikmatan yang
    bergulung-gulung mendera bathinnya. Kudekap
    erat tubuhnya, menjaganya dari kelimbungan
    yang mungkin dapat saja menghempaskannya ke
    lantai marmer yang kami injak. Beberapa saat
    tetap kudekap erat tubuhnya, sampai pada saat
    akhirnya Tia mulai dapat menggerakkan dirinya
    sendiri. Kami sejenak bertatapan, perlahan
    kucium lembut bibirnya. "You're wonderful,
    Babe", pujiku saat dia mulai membuka matanya
    dan memandang ke arahku.
    Tia membalikkan tubuhnya dan memelukku erat.
    Kucium kembali bibir Tia sambil kuangkat
    tubuhnya meninggalkan kotak shower tempat
    kami memadu nafsu. Kurebahkan tubuhnya di
    lantai marmer kamar mandi dengan perlahan.
    Kembali kuletakkan kejantananku di bibir
    kewanitaannya seraya perlahan mendorongnya
    masuk ke dalam. Sejenak kulihat Tia mengigit
    bibirnya sendiri, seakan tengah menikmati
    sensasi penetrasi batangku ke dalam liang
    vaginanya. Kembali kupompakan kejantananku ke
    dalam tubuh Tia, membiarkan tungkainya
    bersandar di pundakku untuk kemudian
    membuat kami terbang meraih kenikmatan
    duniawi dengan lembut dan perlahan. Terus
    kusetubuhi tubuh Tia yang tergolek di lantai,
    mencoba mengimbangi gerakan pinggulnya yang
    makin menjepit batangku.
    "Tia, Ryo mau keluar...", bisikku lirih saat mulai
    kurasakan sesuatu mendesak keluar dari batang
    kejantananku, setelah beberapa waktu
    berlalu.
    "Yes Ryo, cum to my breast", sahut Tia sambil
    mengecup perlahan bibirku sejenak.
    Terus kupompakan batang kejantananku untuk
    mencapai puncak ejakulasiku yang kedua dalam
    hari ini. Saya mencoba untuk menahannya
    selama mungkin, namun usahaku tidaklah banyak
    membawa hasil karena tidak berapa lama
    kemudian kupastikan bahwa benteng
    pertahananku tidak akan bertahan lama lagi.
    Sempat kuhujamkan beberapa kali lagi
    kemaluanku dalam liang vaginanya sebelum
    berteriak keras seraya menarik keluar batangku
    dan memuntahkan isinya, membajiri seluruh
    permukaan dada Tia.
    "Ahh...I'm cummiiiinggg. ..", teriakku parau.
    "Yes....ehhhmmm. ..", erang Tia tidak dapat
    menyelesaikan kalimatnya, karena dirasakannya
    cairan kejantananku ternyata juga mendarat di
    wajah dan rambutnya.Cukup lama kuregang
    diriku dalam orgasme yang sangat dahsyat,
    dimana Tia ikut membantunya dengan mengurut-
    urut batang kemaluanku, menghabisi cairan yang
    mungkin masih tersisa di dalamnya. Kucium
    bibirnya dalam sambil mengucapkan terima kasih
    atas klimaks yang baru saja saya dapatkan,
    sebelum akhirnya merebahkan diriku di
    sampingnya.
     
  16. Man1ac

    Man1ac Semprot Baru
    Thread Starter

    Daftar:
    8 Jun 2011
    Post:
    32
    Like Diterima:
    88
    Bandung, 12 Oktober 2000, 04.48 WIB
    Saya tersadar dari tidur dengan mendadak. Di
    sampingku tergolek tubuh Tia yang tidur
    memunggungiku sambil kupeluk dari belakang.
    Sejenak kucoba mengingat-ingat apa yang baru
    saja saya alami. Samar-samar saya mulai
    mengingat bagaimana sekitar satu setengah jam
    yang lalu kulalui sebuah klimaks yang dahsyat
    dalam dekapan Tia di lantai kamar mandi. Yah
    kuingat bagaimana kemudian kami saling
    membersihkan diri, mengeringkannya untuk
    kemudian menikmati tidur dalam posisi saling
    berpelukan.
    Terasa dinginnya udara AC kamar menjalari
    tubuhku yang tidak ditutupi selembar kainpun
    saat kusingkapkan selimut untuk kemudian
    mencari pakaianku yang berserakan di lantai
    kamar yang ditutupi karpet bernuansa maroon.
    Kukecup lembut kening Tia saat telah lengkap
    saya berpakaian. Terdengar lirih suara Tia saat dia
    mulai tersadar sedikit demi sedikit dari tidurnya.
    Kukecup bibirnya saat dia benar-benar telah
    membuka matanya, memandangku dengan suatu
    tatapan yang sangat sulit ditebak artinya. Tatapan
    sayangkah itu...?
    Jam mobilku menunjukkan pukul 05.21 WIB
    ketika dengan santai kukendarai mini jeep-ku
    membelah jalan Asia Afrika yang masih lengang
    sambil mendengarkan musik yang mulai
    dimainkan radio-radio swasta yang mulai
    mengudara. Saya memang harus segera pergi dari
    sisi Tia, setidaknya untuk hari ini, karena dia akan
    kembali ke Jakarta dengan rombongannya setelah
    breakfast nanti. Pasti suatu pemandangan yang
    tidak lucu jika teman-teman yang menyusul ke
    kamarnya, menemukan kami sedang tidur
    berpelukkan tanpa busana sama sekali.
    But no business talks allowed, masih terngiang di
    telingaku perkataan Tia saat kuajak dirinya
    melewatkan malamnya menikmati suasana
    Bandung semalam. Yah...semoga memang begitu
    keadaan selanjutnya. Terus terang saya paling
    tidak mau mencampurkan urusan pekerjaan
    dengan pribadi. Jika saya ditolak untuk pekerjaan,
    biarkanlah itu karena memang saya tidak cukup
    qualified untuk diterima, bukan karena saya telah
    berani "kurang ajar" kepada salah seorang
    pengujinya (itu pun kalau dia anggap bahwa saya
    kurang ajar, hehehehe.... ). Di lain pihak jika saya
    diterima bekerja, biarlah itu karena memang skill
    dan capability saya memang dibutuhkan oleh
    perusahaan, bukan karena saya berhasil menjalin
    suatu hubungan khusus dengan seorang Tia.
    Meminjam istilah mbak Sari, mendaki corporate
    lewat ranjang, hahahaha.... .
    Dalam hati saya masih sedikit terbersit harapan
    untuk tetap melanjutkan hubungan ini. Masih
    terasa bagaimana Tia mengecup lembut
    bibirku saat dia melepasku di pintu kamarnya. As
    I said before, everything seems so right when
    we're together. Is she the Miss. Right for me after
    I've been looking for all over places ? Why do I
    feel that she's the one, eventhough I have known
    her only by day. Biarlah waktu yang
    menjawabnya, karena orang bijak berkata hanya
    waktulah yang dapat secara pasti menentukan apa
    yang akan kita jalani di masa depan, sepasti sinar
    matahari yang selalu menyapa penduduk bumi
    setiap pagi.
    Seperti saat ini, dimana sinar matahari yang
    pertama jatuh menemani perjalananku
    menembus lengangnya jalanan kota ini.......
     
  17. broken_road

    broken_road Semprot Lover

    Daftar:
    7 Sep 2010
    Post:
    238
    Like Diterima:
    8
    cerita terbaik yg pernah ane baca....mudah2an bkn copas ya gan:beer:
     
  18. pejantan_tanggung18

    pejantan_tanggung18 Suka Semprot

    Daftar:
    19 Oct 2011
    Post:
    15
    Like Diterima:
    0
    Semprot gan
     
  19. Man1ac

    Man1ac Semprot Baru
    Thread Starter

    Daftar:
    8 Jun 2011
    Post:
    32
    Like Diterima:
    88
    Thanks gan
    jadi semangat nih
     
  20. gambleezz

    gambleezz Semprot Baru

    Daftar:
    15 Aug 2011
    Post:
    26
    Like Diterima:
    0
    situs judi online terpercaya - Samsung Hoki
    what a wonderful story!!!
     
Jav Toys  Vimax Resmi
AcehPoker - Agen Poker  Aceh4D - Agen Bola
Obat Pembesar Penis - Online   kiukiu
Vibe House   HokiCash - Agen Bola
Waspada, pin ini BUKAN pin Forum Semprot :
D005 0B6C

Pasang iklan hanya lewat CONTACT US